• Home
  • Resources
    Education Techs Posts Kitab Kuning Blog Journey
  • Portfolios

We Deserve to Know, We Should Be More Grateful

Sampai di titik tersebut, saya dan Wahid sudah terhenyak. Jika kami di posisi mereka, mungkin kami akan memilih untuk kuliah di Indonesia. Tidak disini, di Taiwan. Kami tidak cukup berani untuk tinggal di negeri orang tanpa dana yang pasti. Tapi mereka, ah mereka ini memang orang-orang ‘gila’ yang luar biasa atau kami yang terlalu ‘cupu’ untuk menghadapi kejamnya dunia.

Pagi itu, saya telat bangun, terlambat dua jam dari waktu yang saya rencanakan untuk pergi ke Shoufu University. Hari itu adalah hari terakhir saya di Tainan City, kota sepi yang pas untuk meditasi.

Matahari tampak sayu ditutupi awan mendung sisa typhoon (baca: badai). Daun-daun berguguran dan rintik hujan masih setia menemani kami sepanjang perjalanan. Belum ada petugas kebersihan dan suasana pagi itu tampak masih lengang. Tainan seperti kota yang baru bangkit dari kematian, kontras dengan Taipei yang selalu ramai ala perkotaan.

Di atas langit masih ada langit. Ungkapan tersebut memang pas untuk menggambarkan apa yang saya temui di Shoufu University. Lebih tepatnya begini, bagi saya yang tinggal di Taipei, NCKU Tainan itu sudah sepi, ternyata di Shoufu jauh lebih sepi. Minim ada hilir mudik kendaraan, bahkan kemacetan sepertinya mustahil terjadi. Sepi, tenang, dan damai.

Perjalanan kali ini bertujuan untuk mengunjungi beberapa kawan. Mereka adalah anak-anak S1 yang ‘terlena’ dan terpaksa harus kuliah sambil bekerja. Lokasinya jauh, 5 jam dari tempat saya. Terpencil, terletak di kota yang mungil.

Hujan turun semakin deras ketika saya akhirnya sampai di tujuan. Musholla Ash Shofat menjadi tempat yang tepat untuk bertemu dengan mereka mahasiswa S1 Shoufu University. Mushollanya nyaman, rapi, dan terawat. Menunjukkan bahwa kegiatan keislaman rutin dilakukan.

Fajar, Yaqin, Amir, Nur Aisyah, Nur Fadilah, Eka, Vivi, dan Kintan-lah yang akhirnya datang pada pertemuan tersebut. Layaknya tuan rumah yang baik, saya pun disuguhi makanan dan minuman. Kami pun membuka perbincangan tentang pengalaman dan kesan-kesan mereka selama menjalani perkuliahan di Taiwan. FYI, mereka ini mahasiswa S1, jadi masih imut, lucu dan lugu.

Perlu disclaimer disini, bahwa tulisan ini bukan untuk mencari simpati, tapi untuk menularkan semangat perjuangan yang mereka miliki untuk bertahan di Taiwan. Serius, cerita ini luar biasa. Jika kalian tidak bisa merasakannya, bukan karena ceritanya yang biasa tapi karena saya tidak bisa menggambarkannya. 100% is my fault if your heart are not touched.

Pertama, saya ingin menggambarkan latar belakang mereka. Mereka ini datang dari sekolah-sekolah Islam di Gresik, Sidoarjo, dan Lamongan. Sebagian sekolah mereka bukan termasuk top senior high school dan bukan juga sekolah negeri di kotanya. Entah takdir seperti apa yang bisa membawa mereka ‘melancong’ ke bumi Formosa. Intinya sekarang mereka ada disini, namun apa yang ada disini ternyata diluar ekspektasi.

Jenis beasiswa mereka ada tiga. Beasiswa A, B dan C. Untuk tahun ini sistem beasiswanya menggunakan sistem peringkat dari seluruh mahasiswa Indonesia dari S1 sampai S3 dari angkatan pertama sampai angkatan paling muda. Beasiswa A berhak diterima oleh 20% mahasiswa di peringkat teratas. Selanjutnya 60% untuk beasiswa tipe B, 20% dibawahnya untuk beasiswa tipe C. 10% terakhir untuk mandiri alias tidak mendapat beasiswa sama sekali.

Fasilitas yang diterima untuk beasiswa tipe A adalah bebas uang kuliah dan dormitory. Beasiswa tipe B, mereka harus membayar 50% dari biaya kuliah yang dibebankan. Sedangkan, beasiswa tipe C hanya akan membebaskan biaya dormitory. Selain itu, ketika mereka sudah mendapatkan beasiswa, mereka harus membalas budi ke universitas dengan service hour. Service hour ini intinya mereka harus bersih-bersih sekolah. Semakin besar beasiswanya, maka semakin banyak juga service hour yang harus mereka lakukan.

Sudah terlihat betapa ketatnya kuliah disini. Sekedar perbandingan, beasiswa di NTUST terbagi menjadi 3 jenis beasiswa, yaitu full, partial, and tuition waver. Mahasiswa yang mendapatkan beasiswa full akan dibebaskan uang kuliah dan mendapatkan living cost sebesar 10.000 NT tiap bulan. Hal ini juga berlaku untuk beasiswa partial, bedanya living costnya sebesar 8.000 NT. Sedangkan, untuk beasiswa tuitionwaver, mahasiswa tidak mendapat living cost sama sekali namun tidak dibebankan biaya perkuliahan.

Sungguh, hal ini cukup membuat saya kaget, speechless, dan akhirnya diam. Betapa beruntungnya saya bisa kuliah tanpa khawatir uang makan dan uang jajan. Dengan posisi seperti ini saja kadang saya masih mengeluh dan merasa kurang. Betapa tidak bersyukurnya saya ketika mendengar cerita dari mereka, mahasiswa Shoufu University yang tetap survive dengan kondisi yang jauh lebih ‘menyakitkan’.

Sampai di titik tersebut, saya sudah terhenyak. Jika saya di posisi mereka, for sure we will choose to study in Indonesia, not here in Taiwan. Saya tidak cukup berani untuk tinggal di negeri orang tanpa dana yang pasti. Tapi mereka, ah mereka ini memang orang-orang ‘gila’ yang luar biasa atau kami yang terlalu ‘cupu’ untuk menghadapi kejamnya dunia.

Berbicara untuk bertahan hidup, mereka ini luar biasa. Sadar dengan kebutuhan hidup yang tidak sedikit, mereka pun bekerja. Disela-sela waktu kuliah, mereka luangkan waktu untuk menghidupi diri sendiri. Kerja delapan sampai sepuluh jam sehari sudah biasa, bahkan menjadi tradisi. Sepertinya tidak ada kata manja dalam kamus mereka. Kerja kuli mereka jalani. Mulai dari assembling, ngebengkel, ngebor, warping, masak, dan lain-lain. Tempat kerjanya panas, apalagi saat musim panas. Eits, jangan kira pekerjaan yang saya sebutkan tadi dikerjakan oleh lelaki saja, yang wanita pun sama. Lelaki dan wanita tak ada beda. Kalau kalian tanya soal gaji, gajinya hanya 120 NT per jam. Itu pun masih banyak potongan. Mulai dari potongan uang makan, biaya mobil jemputan, asuransi kesehatan, dan asuransi kalau mereka merusak barang. Lokasi kerjanya juga luar biasa nyayat telinga. Ada yang pergi sampai Kaohsiung, Chongli, bahkan sampai Taipei. FYI, untuk ke Kaohsiung sendiri butuh waktu 2 jam di kereta. Apalagi ke Taipei, 5 jam harus dialokasikan untuk perjalanan pergi saja.

Banyak sekali kesulitan yang mereka alami. Mereka ini benar-benar seperti baja yang sedang di tempa di kawah candradimuka. Mulai dari kesulitan bahasa dimana mereka harus menggunakan bahasa mandarin untuk perkuliahan. Mandarin pun bukan simplified Chinese, tapi traditional Chinese yang lebih sulit untuk ditulis, dibaca, dan dipahami. Belum lagi kesulitan menahan nafsu anak muda yang ingin beli baju baru, makan enak, hidup lebih nyaman, dan kesulitan-kesulitan lain yang belum bisa saya gambarkan.

Berbicara tentang keislaman, mereka ini luar biasa. Hidup sebagai muslim minoritas dan pinggiran. Ternyata mereka tidak melupakan tradisi-tradisi dan amaliyah kepesantrenan. Setiap malam Jumat, tahlilan selalu diagendakan. Hari-hari kebesaran Islam pun selalu rutin dirayakan. Maulid Nabi, sholawatan, ceramah, dan pengajian rutin selalu dilaksanakan.

Finally, misi saya yang awalnya untuk berkunjung saja berubah menjadi proses belajar dan introspeksi diri. Mungkin cerita ini tidak bisa menggambarkan keadaan semua mahasiswa disana. Tapi dari delapan mahasiswa yang saya temui tadi, I can conclude that they are deserve to be called as a little hero, at least for theirself. Finally, I should say that mahasiswi disana layak menjadi istri idaman dan mahasiswa disana cocok jadi imam masa depan.

Tainan, 09 Juli 2016

Let's Connect