Oktober datang dengan dingin dan hujan, membuatnya terasa lebih dingin dari tahun-
tahun sebelumnya. Di luar sana, hujan lebat mengguyur tanah Formosa membuat dia semakin
betah untuk menulis serangkaian cerita. Tahun ini merupakan tahun ketiga dia menapakkan
kakinya di Formosa, pulau kecil di antara Jepang, Korea, dan dataran China. Selama tiga tahun
itu, banyak sekali cerita unik dan menarik yang dialaminya ketika berperan sebagai representasi
muslim Indonesia, pelajar pasca-sarjana, dan tentunya sebagai seorang santri atau lekat disebut
sebagai kaum sarungan.
Terlahir dalam lingkungan yang mayoritas berkeyakinan Islam membuatnya memiliki
pemahaman bahwa kondisi ideal untuk muslim adalah sesuai dengan apa yang ada disekitarnya
pada saat itu. Tetapi jika berbicara tentang keyakinan, setiap orang bisa saja lahir sebagai
muslim, nasrani, atheis ataupun yahudi. Karena lahir dengan otomatis berkeyakinan bukanlah
pilihan kita, tapi mati seperti apa kita lah yang menentukannya. Sebagai seorang muslim, yang
terpenting bukan hanya tentang syahadat, puasa dan sholat. Jauh lebih dari itu, baginya,
menjadi muslim adalah persistensi memegang keyakinan dimanapun berada, baik di lingkungan
mayoritas maupun minoritas.
Yang semula kumandang adzan selalu bersahutan ditempatnya tinggal, tetapi sejak
September 2015 dia harus berbesar hati mengucap selamat tinggal pada panggilan
meneduhkan itu. Selamat tinggal juga pada ayam goreng, rendang, nasi padang, atau makanan
khas nusantara lainnya. Selamat tinggal segala kemudahan menjadi muslim mayoritas dan
selamat datang pada semua tantangan yang akan dihadapi ketika menjadi bagian kecil dari
0.3% jumlah muslim di Taiwan.
Di kota ini, Taipei, hanya ada dua masjid yang kalau di Indonesia seukuran mushola atau
masjid desa. Akan sangat susah bagi para pendatang untuk mencari tempat ibadah atau rumah
makan halal. Jumlahnya terbatas dan harganya melangit. Tapi itulah serunya. Dengan semua
jenis keterbatasannya, Taipei justru berubah menjadi tempat paling nyaman untuk dihuni. Ada
banyak kisah romantis yang bisa disampaikan seperti ketika adzan berkumandang (di ponsel
masing-masing tentunya), dia tak perlu repot-repot mencari tempat ibadah. Karena jelas dia tak
akan menemukannya. Cukup gelar saja sajadah di taman atau tempat sepi lainnya. Lalu sholat
dengan cueknya. Tak akan ada orang yang menegur. Bukan karena acuh, tapi karena
menghormati apa yang dia yakini. Pernah dalam suatu perjalanan dalam kota, ketika maghrib
sudah tiba, dia gelar sajadah di salah satu stasiun MRT (subway). Tidak ada yang petugas
mengusir. Tak ada orang yang memfoto keheranan. Justru ada orang lokal yang berdiri di
dekatnya, dan berkata kepada setiap orang yang melintas di depannya: “Tā zài chóngbài, bùyào
bèi dǎrǎo, nǐ zhǐshì jìxù lǚxíng”, yang jika di-Indonesiakan berbunyi: dia sedang beribadah,
jangan diganggu, kalian lanjutkan saja perjalanan kalian.
Di tanah ‘penikmat babi’ ini, makanan halal adalah makhluk paling dicari selain jodoh.
Selain jumlahnya yang terbatas, lokasinya pun saling berjauhan. Uniknya, dengan ini dia bisa
melihat banyak tipe manusia berdasarkan makanannya. Maksudnya, ada yang berprinsip
pokoknya bukan babi (ABUBA), ada yang berani makan ayam atau sapi, ada juga manusia yang
sangat teguh menjaga makanannya dengan hanya nasi, sayur dan buah-buahan. Di Indonesia,
dia bisa makan apa saja, tapi di Formosa, dia harus pandai-pandai memilah makanannya. Misal,
apakah makanannya mengandung daging? Jika mengandung daging, apakah daging tersebut
dibeli di distributor halal? Apakah mengandung unsur babi? Apakah mengandung minyak babi?
dan pertanyaan serupa lainnya.
Salah satu hal yang paling dia syukuri, ternyata Formosa semakin hari semakin ramah
terhadap dunia Islam. Terbukti dengan banyaknya fasilitas muslim yang mulai dibangun dan
kemudahan-kemudahan untuk mengadakan kegiatan keislaman seperti perayaan hari raya,
tabligh akbar dan bahkan pengakuan terhadap organisasi muslim. Sebut saja salah satunya
PCINU Taiwan yang selain menjelma sebagai islamic center, juga sebagai education and social
development yang terlegalisasi di Kementerian setempat. Tak hanya itu, di kampus misalnya,
dia bersama teman-temannya bisa mengadakan tahlil-yasin dan kajian kitab kuning layaknya di
Indonesia.
Baginya Taiwan adalah rumah kedua. Taiwan, meskipun bukan negara muslim, namun
terkadang lebih menerapkan nilai-nilai keislaman, jauh lebih dalam dibanding dengan
Indonesia. Iya, terkadang. Terutama tentang cara menghargai sesama, etos kerja, kejujuran dan
keramahan. Ambil saja cerita ketika salah satu Menteri Taiwan memutuskan untuk mundur dari
jabatannya setelah listrik beberapa kota mati selama beberapa jam. Beritanya bisa dikroscek di
Google, ketik saja “Taiwanese minister resigns after error at power plant plunges 668,000
homes into darkness”. Bijaknya, sebelum mundur, beliau selesaikan semua masalah terlebih
dahulu. Hal yang perlu ditiru oleh pejabat-pejabat kita di Indonesia. Sebuah kisah lain dari
temannya, sebut saja Yusa. Ketika pertama kali tiba di Formosa, Yusa lupa membawa berkas-
berkasnya yang ditaruh di rak sepeda Ubike (semacam sepeda umum yang menjadi fasilitas
kota). Uniknya, pada keesokan hari setelah kejadian itu berkasnya sudah diantar orang ke
dormitory. Entah siapa yang mengantar, tapi dokumennya lengkap tak ada yang hilang satu
lembar pun. Atau sebut saja Wahyu, yang dompetnya tertinggal di taman. Wahyu baru sadar
keesokan harinya. Beruntung setelah beberapa waktu dompetnya tetap bertapa disana, tidak
bergeser dan yang pasti uangnya masih ada dengan jumlah yang sama. Pernah juga dia tersesat
di suatu daerah, parahnya tak ada kuota internet dan tak tahu jalan ke terminal. Dia putuskan
untuk bertanya ke orang lokal, uniknya, bukan hanya ditunjukkan jalan pulang, diapun diantar
hingga terminal terdekat. Takut dia kesasar lagi katanya. Ada juga kisah Farid yang sok-sokan
jalan-jalan tanpa mempelajari medan terlebih dahulu. Alhasil, tidak hanya harus berjalan kaki
berkilo-kilo meter untuk tiba di tempat tujuan namun dia juga tersesat. Nah, sewaktu Farid
bertanya kepada orang lokal, orang Taiwan tersebut justru menyuruhnya untuk naik mobil, lalu
diantar sampai tempat tujuan. Gratis! Ada juga cerita Ami, yang IPhone 6-nya jatuh di bus. Coba
tebak kelanjutan ceritanya? Iya, Iphone-nya diantar sampai kampusnya. Ada banyak cerita
seperti ini, yang tentunya menyimpan rasa kagum dan syukur yang selalu dirindukan ketika
kembali ke Indonesia. Formosa, selalu punya cerita tersendiri untuk membuatnya merasa
bangga tinggal di tanahnya.