• Home
  • Resources
    Education Techs Posts Kitab Kuning Blog Journey
  • Portfolios

Menerima Kenyataan, Lalu Berperang Melawan Keterbatasan

Sebuah surat cinta yang terangkai dari paduan kenangan, mimpi, doa, dan juga harapan untuk masa depan.


listen it, instead of read

Di samping jendela di salah satu sudut ruang kampus NTUST, saya mulai menulis cerita ini sambil sesekali memandang mantan bangunan tertinggi di dunia, Taipei 101. Anggap saja tulisan ini menjadi sebuah surat cinta yang terangkai dari paduan kenangan, mimpi, doa, dan juga harapan untuk masa depan.

Malam ini, ketika tulisan ini saya tulis, saya berusaha mengingat siapa saya 11 tahun lalu. Saya membayangkan apa yang dipikirkan anak kecil berumur 13 tahun itu, ketika harus menerima kenyataan bahwa dia tidak bisa lagi berjalan. Jangankan berjalan, duduk saja merintih kesakitan. Menerima kenyataan hanya bisa tidur terlentang di ranjang selama berbulan-bulan, bergonta-ganti rumah sakit, keputusasaan, hingga pernah berpikir untuk bunuh diri.

Saya memikirkan daya apa yang dimilikinya, sehingga dia bisa berani melawan keterbatasannya setelah 4 dokter spesialis tulang memvonisnya terinfeksi Tuberculous coxitis, bakteri yang menggerogoti sendi kakinya, dan merusaknya sedemikian rupa, sampai membuatnya kehilangan kemampuan untuk berjalan.

Saya membayangkan betapa besar tekanan yang ia rasakan ketika opsi ganti sendi buatan, satu-satunya cara untuk bisa kembali berjalan normal, tiba di telinganya. Masalahnya, butuh biaya puluhan juta untuk sekali operasi, padahal sendi buatan itu harus diganti setiap 5 tahun sekali. Begitu besar beban yang dirasakan anak kecil itu karena harus memutuskan untuk berani menerima kenyataan untuk mengamputasi bagian tulangnya yang rusak, yang akan menjadikannya berjalan pincang selamanya. Tahun-tahun yang melelahkan harus dijalani dengan rutinitas medical check up bulanan untuk memastikan bakteri itu sudah hilang dari tubuhnya dan berlatih berjalan kembali layaknya bayi kecil yang lupa caranya melangkahkan kaki. Saya ingat betul betapa malunya dia kembali ke sekolah, bertemu dengan teman-temannya dengan kondisi memakai kruk untuk berjalan. Betapa tidak pede-nya dia berjalan di tengah kerumunan dan betapa takutnya dia dengan mata-mata yang selalu memperhatikan lakunya. Saat itu dia masih baru duduk di bangku Madrasah Tsanawiyah, dan jurang keputusasaan tepat berada selangkah di depannya. Menunggunya terpeleset dan jatuh tersungkur ke dalam. Keterbatasan seolah menjelma bagaikan tembok besar yang menghalanginya untuk melihat masa depan.

Tapi, ternyata dititik terberat dalam hidupnya itulah dia menemukan arti hidupnya. Dengan sisa-sisa keberanian yang dikumpulkannya hari demi hari, dia menyakini bahwa setiap orang besar selalu akan mengalami penderitaan yang tak akan dirasakan orang-orang biasa pada umumnya. Bahwa Tuhan membantingnya ke kanan dan ke kiri sebelum menaikkan derajatnya dan meninggikan posisinya. Anak kecil itu lalu memulainya dengan menerima kenyataan bahwa pincang bukanlah tolak ukur kebahagiaannya dan tidak akan mempengaruhi masa depannya. Justru dia menjadikan itu sebagai motivasi untuk bisa bersaing dengan orang normal pada umumnya. Keterbatasan itu dia jadikan meriam yang siap meletuskan api-api semangat dan menjadikannya sebagai acuan bahwa kelak ketika dia menghadapi masalah berat dalam hidupnya, maka dia akan lantang berkata: Dulu saya pernah merasakan yang lebih berat. Dulu saya bisa melaluinya, maka sekarang pun saya akan akan melaluimu.

Dia mulai perjalanannya dan menyusun kembali mimpi-mimpi besar yang dulu ada. Menuliskan dengan jelas mimpi-mimpinya di buku-buku catatan dan dinding kamar. Menyusun strategi dan berusaha berbagai macam cara untuk menggapainya. Dia yakin Tuhan sudah menyiapkan berbagai macam perangkat untuk membantunya menang dari segela rasa minder dan putus asa atas keterbatasannya. Menisbahkan dirinya sebagai pemimpi buta yang buta pada resiko daripada takut untuk melangkah. Pemimpi buta yang menyakini bahwa Tuhan tak akan menyiakan hamba-Nya yang benar-benar berusaha. Pemimpi buta yang memilih buta dengan godaan untuk menjadi manusia biasa-biasa pada umumnya.

Walaupun begitu, selalu dan sering kali rasa minder itu datang menghampiri. Ketika berjalan melewati teman-temannya di sekolah, dia malu. Ketika dia berjalan di jalanan desa, dia malu. Ketika dia bergaul dengan teman-temannya, dia malu. Ketika berdiri di depan kelas, dia malu. Namun, kepercayaannya pada Tuhan yang akan membantunya mewujudkan mimpi-mimpi besarnya salalu menjadi pecut yang menyadarkannya bahwa ada masa yang lebih kelam sebelumnya, dan dia sudah sukses melewati masa itu. Kenapa sekarang dia harus takut?

Inilah yang membuatnya justru aktif di berbagai kegiatan, hingga akhirnya dia mendapatkan beasiswa PBSB Kementerian Agama di Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS Surabaya). Kampus yang notabene susah ditembus apalagi dengan statusnya, lulusan Aliyah swasta di desa terpencil yang minim informasi dan teknologi.

Kepercayaannya bahwa Tuhan sudah menyiapkan berbagai perangkat penunjang untuk meraih mimpi-mimpinya memang tak bertepuk sebelah tangan. Tuhan seolah melipat gandakan kepercayaan dirinya untuk berani berorganisasi mulai skala regional sampai nasional. Bahkan Tuhan memberikannya bonus kesempatan untuk bersaing di berbagai macam pagelaran lomba bergengsi dan membiarkannya untuk menyicipi medali. Tidak cukup sampai disitu, Tuhan bahkan melipat gandakan bonus itu dengan mengizinkannya mendapatkan penghargaan dan apresiasi bergengsi, seperti dari Menteri Agama dan Menteri Pemuda dan Olahraga.

Pencapaian indah yang jauh dari ekspektasinya itu membuatnya sadar bahwa dia bukanlah siapa-siapa. Tuhan yang menjalankannya tanpa diminta. Untuk itu, mimpi-mimpi individualnya yang dulu mendominasi perlahan dia ganti dengan tugas baru yang tak kalah menantang. Menebar inspirasi. Bahwa dia menyakini ada banyak anak di luar sana yang memiliki masalah sama sepertinya dan belum menemukan keberanian untuk melawan keterbatasan mereka. Menularkan semangat juang dan berani untuk menerima keadaan dan selanjutnya berperang melawan keterbatasan.

Dia mulai dengan mencari problem di sekitarnya dan berusaha mencari solusi. Mulai dari merintis gerakan sosial kependidikan supaya anak-anak desa mau melanjutkan pendidikan di Perguruan Tinggi Negeri ternama, meluncurkan berbagai inovasi teknologi untuk membantu pesantren-pesantren Jawa dan Madura, berbagi inspirasi dan menularkan mimpi kepada adik-adik yatim-piatu di panti asuhan, dan lain sebagainya.

Ah, nikmat Tuhan mana yang dia dustakan? Bahkan Tuhan terus menambahnya tanpa sedikit pun keraguan di dada. Beberapa bulan setelah sidang sarjananya, kaki pincangnya itu menginjakkan kaki di Singapura lalu melanjutkan perjalanannya untuk menempuh study S2-nya di Taiwan, negara kecil nan maju yang berjuluk semi-kunduktornya dunia. Beasiswa penuh yang didapatkannya kembali membuatnya sadar bahwa nikmat yang didapatkannya itu sangatlah mahal, dan dia harus menggantinya dengan mengabdi pada agama dan negara. Untuk itu dia mendedikasikan sebagian waktunya untuk membantu Tenaga Kerja Indonesia di Taiwan.

Sekali lagi, dia terhenyak dengan kenyataan. Bahwa sekali dia berusaha menebus rasa terima kasihnya kepada Tuhan, maka Tuhan justru memberikannya bonus berkali-kali lipat, jauh diluar angan-angannya. Berjalan-jalan ke beberapa negara dan beasiswa S3 adalah sebagian contohnya. Ah, Tuhan, coba nikmat mana yang dia dustakan?

Sebagai manusia yang pernah merasakan titik terendah dalam hidupnya, dia ingin berpesan bahwa darimana pun kita, kita masih punya Tuhan Yang Maha-Maha. Untuk itu ketika kita berada dalam titik terendah keputusasaan, maka beranilah menerima kenyataan dan berperanglah melawan keterbatasan. Yakinlah bahwa Tuhan Yang Maha-Maha itu telah menyiapkan perangkat-perangkatnya untuk membuat kita melejit ke titik yang tak pernah kita bayangkan sebelumnya. J ika kita mampu malampauinya, maka kelak suatu saat ketika kita mendapatkan masalah serupa, kita akan merasa enteng untuk lantang berkata “Aku pernah melewati kondisi yang lebih buruk darimu, maka aku pun akan melewati ini seperti saat itu”.

Let's Connect